Kebun Cokelat Coklat Cepat Panen

budidaya cokelat
    Rumusan Masalah

  • Bagaimana proses berlangsungnya budidaya cokelat pada setiap ranah?
  • Apa saja kendala dan resiko yang dialami dalam proses budidaya cokelat?
  • Apa olahan yang dapat dihasilkan dari komoditas cokelat?
    Tujuan

  • Memperkaya pengetahuan pembaca mengenai proses berlangsungnya budidaya cokelat pada setiap ranah
  • Memperkaya pengetahuan pembaca mengenai kendala dan resiko yang dialami dalam proses budidaya cokelat
  • Memperkaya pengetahuan pembaca mengenai olahan yang dapat dihasilkan dari komoditas coklat

panen coklat
panen coklat

PEMBAHASAN

Proses Berlangsungnya Budidaya Cokelat pada Setiap Ranah

I. Ranah Hulu Agribisnis Komoditas Coklat

A. Syarat Tumbuh Tanaman Cokelat

Klon – klon kakao unggul akan memperlihatkan potensi keunggulannya bila tanaman tersebut dibudidayakan di wilayah agro-ekologi (lingkungan tumbuh) yang sesuai.
Syarat – syarat tanaman cokelat tumbuh :
a. Tanahnya subur, gembur, banyak mengandung bahan organic (humus), memiliki sirkulasi udara (aerasi) dan peredaran air (drainase) baik, mudah mengikat air, kedalaman air tanah cukup dalam (lebih dari 1.5 m di bawah permukaan tanah), tekstur tanah lempung liat berpasir dengan komposisi fraksi liat 30% – 40%, pasir 50% dan debu 10 – 20%, kandungan unsure hara (terutama N,P,K) cukup tinggi dan memiliki pH tanah/ derajat keasaman tanah 6,0 – 7,5
b. Di dataran rendah sampai ketinggian 500 m dari permukaan laut (dpl). Namun , tanaman masih toleran hingga ketinggian 800 m dpl, walaupun hasilnya tidak sebaik di dataran rendah.
c. Keadaan angin tidak terlalu kencang, karena dapat menyebabkan gugurnya bunga dan terganggunya proses penyerbukan bunga. Kecepatan angin yang baik untuk penyerbukan bunga adalah 2 – 5 m/detik.
d. Curah cukup dan terdistribusi merata sepanjang tahun dengan jumlah curah hujan rata – rata berkisar antara 1.500 – 3.000 mm/tahun, namun yang paling baik adalah 1.500 – 2.000 mm/tahun. Di daerah yang curah hujannya kurang dari 1.500 mm/tahun masih dapat ditanam kakao asalkan di daerah tersebut tersedia air irigasi. Dan lamanya bulan kering tidak lebih dari 3 bulan.
e. Keadaan temperature udara berkisar antara 15°C – 32°C, namun yang paling baik adalah berkisar antara 18°C – 30°C dengan temperatur optimum 25,5°C dan kelembaban udara relative kurang lebih 80%. Fluktuasi temperature harian kurang dari 9°C.
f. Intensitas sinar matahari yang diperlukan untuk fotosintesis yang baik adalah lemah, yaitu sebesar 20% – 50% dari penyinaran matahari penuh. Untuk memperoleh intensitas sinar matahari yang lemah tersebut, diperlukan pohon penaung untuk mengurangi penyinaran matahari penuh. Dengan demikian , tanaman dapat tumbuh dengan baik.

budidaya cokelat
budidaya cokelat

B. Pengadaan Bibit Coklat

1. Pengadaan Bibit dengan Cara Membeli yang Telah Siap ditanam.
Pengadaan bibit kakao dengan cara membeli bibit yang telah ditanam hendaknya memperhatikan hal – hal sebagai berikut :
a. Bibit dibeli dari penangkar bibit yang terpercaya menyediakan bibit – bibit yang bermutu baik dan telah berserfitikat. Bibit yang berserfitikat menjamin kebenaran klon dan kualitas bibit. Pada umumnya bibit kakao dapat diperoleh di PNP/PTP, Perusahaan Besar Swasta dan Balai – Balai Penelitian seperti Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember, Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan dan lain – lain.
b. Bibit sebaiknya yang berasal dari perbanyakan vegetative (stek, okulasi, penyusuan, penyambungan)
c. Keadaan fisik bibit harus baik dan sehat, yakni bibit yang dipilih harus betul – betul bebas dari penyakit, pertumbuhan batang bawah dan batang atas seimbang, jumlah daun memenuhi syarat, tanaman kokoh, daun tidak banyak yang gugur dan pucuk atau kuncup tanaman tidak mongering.
2. Pengadaam Bibit dengan Melakukan Pembibitan Sendiri
Pengadaan bibit dengan melakukan pembibitan sendiri dapat dilakukan dengan cara generative yaitu menyemaikan bijinya atau cara vegetative, yaitu menggunakan setek, penempelan mata tunas atau okulasi (budding), penyambungan (grafting), atau penyusuan (approach/inarching grafting). Namun, untuk mendapat-kan bibit tanaman kakao yang baik dianjurkan cara vegetative.
Pekerjaan pembibitan harus dilakukan dengan baik dan benar karena kegiatan ini merupakan langkah awal yang menentukan keberhasilan berusaha tani. Produksi biji yang tinggi diawali dengan penggunaan bibit yang baik dari hasil seleksi yang ketat dan pemeliharaan yang itensif. Pekerjaan di dalam pembibitan kakao secara vegetative meliputi 3 hal, yaitu pembibitan batang bawah, pembibitan batang atas, dan pembibitan dengan melakukan Okulasi
Penting! Baca jua (di tab baru) Perbedaan makna kata ‘Cokelat’ dan ‘Coklat’.

II. Ranah Hulu Usaha Tani Agribisnis Komoditas Coklat

A. Penanaman Coklat

Dua minggu sebelum penanaman, lebih dahulu disiapkan lubang tanam berukuran 40 cm x 40 cm 40 cm atau 60 cm x 60 cm, tergantung pada ukuran polibag. Lubang kemudian ditaburi 1 kg pupuk Agrophos dan ditutup lagi dengan serasah. Pemberian pupuk itu dimaksudkan untuk menyediakan hara bagi bibit yang akan ditanam beberapa minggu kemudian.
Bibit yang hendak ditanam sebaiknya tidak terlalu sering dipindahkan dari suatu tempat ke tempat yang lain. Untuk itu, diperlukan tempat pengumpulan bibit. Polibag yang diangkat dengan cara memegang batang bibit akan sangat merugikan bibit. Dengan menyangga polibag ke lubang penanaman, mutu bibit akan jauh lebih terjamin.
Teknik penanamannya adalah adalah dengan terlebih dahulu memasukkan polibag ke dalam lubang tanam. Setelah itu, dengan menggunakan pisau tajam, polibag disayat dari bagian bawah ke arah atas. Polibag yang terkoyak dapat dengan mudah ditarik dan lubang ditutup kembali denga tanah galian. Pemadatannya dilaksanakan dengan bantuan kaki, tetapi di sekitar batang di permukaan tanah haruslah lebih tinggi. Hal itu dimaksudkan untuk mencegah penggenangan air di sekitar batang yang dapat menyebabkan pembusukkan.

Bibit yang baru ditanam di lapangan peka akan sinar matahari. Bila tersedia tenaga dan bahan yang cukup, bibit dapat diberi naungan sementara dengan menancapkan pelepah kelapa sawit atau kelapa di sebelah timur dan barat.

budidaya coklat
budidaya coklat

B. Pemangkasan

Selama masa tanaman belum menghasilkan (TBM), pemeliharaan ditujukan kepada pembentukkan cabang yang seimbang dan pertumbuhan vegetatif yang baik. Di samping itu, pemangkasan pohon pelindung tetap juga dilaksanakan agar percabangan dan dedaunannya tumbuh tinggi dan baik. Pohon pelindung sementara dipangkas sampai akhirnya dimusnahkan sejalan dengan perumbuhan cokelat. Pohon pelindung sementara yang dibiarkan akan membatasi pertumbuhan cokelat karena menghalangi sinar matahari serta menimbulkan persaingan dengan tanaman utama dalam mendapatkan air dan hara.
1. Pemangkasan pohon pelindung sementara
Pohon pelindung sementara perlu dipangkas agar tidak menutupi tanaman cokelat. Caranya adalah merumpisnya dengan menggunakan pisau babat tajam. Pohon pelindung sementara harus tidak lebih tinggi dari 1,5 m agar tanaman cokelat mendapatkan sinar matahari yang sesuai untuk pertumbuhannya. Sisa pemangkasan diletakkan di pinggir tanaman cokelat agar dapat menekan pertumbuhan gulma dan menjadi suber hara.Sesuai dengan umur cokelat, pohon pelindung sementara dipangkas semakin rendah.
2. Pemangkasan pohon pelindung tetap
Pohon pelindung tetap dipangkas agar dapat berfungsi untuk jangka waktu yang lama dan dilaksanakan pada cabang-cabang yang tumbuh rendah dan lemah. Dengan pemangkasan diharapkan paling tidak cabang terendah pohon pelindung akan berjarak lebih dari 1 m dari tajuk tanaman cokelat. Cabang yang dipangkas dapat digunakan sebagai bibit setek batang untuk areal tertentu yang pohon pelindungnya telah mati.
Di samping itu, pemeliharaan juga dilaksanakan dengan memusnahkan pohon pelindung sementara sejauh 50 cm dari batang pohon pelindung tetap. Dengan demikian, pertumbuhannya tidak terhalang dan penyebaran tajuk juga merata.Pohon pelindung tetap yang mempunyai dua cabang utama sejak awal pertumbuhan, dibiarkan tumbuh samapi berumur satu tahun. Setelah itu, satu cabang harus dipotong agar tidak memberikan naungan yang terlalu gelap bagi cokelat.
3. Pemangkasan cokelat
Bagi tanaman cokelat, pemangkasan berarti usaha meningkatkan produksi dan mempertahankan umur ekonomis tanaman. Secara umum, tujuan pemangkasan sebagai berikut.
a. Mendapatkan pertumbuhan tajuk yang seimbang dan kukuh.
b. Mengurangi kelembapan sehingga aman dari serangan hama dan penyakit.
c. Memudahkan pelaksanaan panen dan pemeliharaan, misalnya penyemprotan insektisida atau pemupukan.
d. Mendapatkan produksi yang tinggi karena pemangkasan akan memperluas permukaan asimilasi dan merangsang pembungaan/pembuahan yang disebabkan oleh adanya keseimbangan vegetatif dan generatif.
Pada tanaman cokelat yang belum menghasilkan (TBM), setelah berumur 8 bulan perlu dilaksanakan pemangkasan. Pemangkasan demikian disebut pemangkasan bentuk. Sekali dua minggu tunas-tunas air (chupon) dipangkas dengan cara memotongnya tepat di pangkal batang utama atau cabang primer yang tumbuh. Sebanyak 5-6 cabang dikurangi sehingga hanya tinggal 3-4 cabang saja. Cabang yang dibutuhkan adalah cabang yang simetris terhadap batang utama, kukuh, dan sehat. Tanaan yng cabang-cabang primernya terbuka sehingga jorket langsung terkena sinar matahari, sebaiknya diikat melingkar agar pertumbuhannya membentuk sudut lebih kecil terhadap batag utama atau tajuk menjadi lebih ramping.
Kadang-kadang dilakukan juga pemangkasan terhadap cabang primer yang tumbuhnya lebih dari 150 cm. Hal ini bertujuan merangsang tumbuhnya cabang-cabang sekunder. Untuk bibit vegetatif, pemangkasan TBM dilaksanaka agar cabang yang tumbuh tidak rendah. Pemangkasan bentuk ilaksanakan dengan selang waktu dua bulan sekali selama masa TBM.
Bentuk pangkasan yang bertujuan untuk menggantikan cabang yang patah karena angin atau tertimpacabang pohon pelindung yang dapat juga dimasukkan ke dalam pelaksanaan pemangkasan pemeliharaan. Oleh sebagian pekebu, pemangkasa tersebut dinamakan pemangkasan rehabilitasi yang dilaksanakan dengan memelihara chupon pada ketinggian 25 cm dari jorket.
Bentuk pemangkasan yang lain adalah pemangkasan produksi. Pada pemangkasan ini, cabang-cabang yang tidak produktif, tumbuh ke arah dalam, menggantung, atau cabang kering, serta cabang yang terserang hama dan penyakit, maupun yang terhimpit dipangkas dengan selang waktu empat bulan sekali. Dengan pemangkasan produksi, diharapkan produksi pun meningkat karea pemangkasan tersebut akan mengurangi cabang-cabang yang hanya memanfaatkan hara saja, menambah kelembapan, dan dapat mengurangi intensitas sinar matahari bagi daun.
Di samping pemangkasan bentuk, dikenal juga pemangkasan pemeliharaan yang lebih mengutamakan keseimbangan cabang primer. Chupon harus dipangkas dengan selang waktu dua minggu sekali karena bila dibiarkan tumbuh kan menyerap hara semata-mata dan menjadi inang (host) beberapa hama. Pemangkasan pemeliharaan dilakukan dengan memotong cabang-cabang sekunder dan tersier yang tumbuhnya kurang dari 40 cm dari pangkal cabang primer maupun sekunder. Cabang-cabang demikian bila dibiarkan tumbuh akan semakin membesar sehingga semakin menyulitkan ketetapan pemangkasan. Di samping itu, pemangkasannya pun semakin sukar dilaksanakan dan dapat merugikan tanaman cokelat itu sendiri.
Cabang-cabang primer yang tumbuh merunduk dapat disokong dengan bambu. Kegiatan ini dapat dilaksanakan bersamaan dengan pemangkasan pemeliharaan yang dilaksanakan dua bulan sekali.

C. Pemupukan Tanaman Coklat

Cokelat dipupuk setelah berumur dua bulan di lapangan. Pada TBM, pemupukkan diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan vegetatif dan mempertahankan daya tahan tanaman terhadap hama dan penyakit.
Pemupukan pada TBM dilaksanakan dengan cara menabur pupuk secara merata dengan jarak 15-50 cm (untuk umur 2-10 bulan) dan 50-75 cm (untuk umur 14-20 bulan) dari batang utama. Untuk TM penaburan pupuk dilakukan pada jarak 50-75 cm dari batang utama.

Dosis pemberian pupuk majemuk untuk TBM
(Tanaman belum menghasilkan)

tabel budidaya coklat 1
tabel budidaya coklat 1

Contoh dosis pemberian pupuk TM berdasarkan umur tanaman yang ditetapkan berdasarkan analisis tanah
tabel budidaya coklat 2
tabel budidaya coklat 2

A. Pengendalian Gulma
Pengendalian gulma dalam areal pertanaman cokelat biasanya dilaksanakan pada masa TBM. Saat itu tajuk belum saling bertemu sehingga masih ada jalur terbuka baik antar barisan maupun di dalam barisan itu sendiri.
Paspalum sp., Axonopus compressus, Eleusine indica, dan Digitaria sp. merupakan gulma golongan rumput-rumputan yang umum didapati pada areal cokelat. Selain itu, Ageratum conyzoides dan Mikania sp. Juga merupakan gulma berdaun lebar. Pengendalian gulma dapat dilakukan secara manual dan kimiawi di pembibitan, pada saat tanaman masih muda, maupun pada areal TM yang ditumbuhi gulma yang tahan terhadap ketersediaan cahaya minimum.
Di bedeng pembibitan, pengendalian gulm secara kimiawi umumnya dilakukan penyemprotan dengan herbisida pratumbuh. Penyemprotan herbisida pratumbuh di areal pertanaman muda dapat menghambat pertumbuhan Paspalum conjugatum dan Ageratum conyzoides selama 5-6 bulan. Bila pengendalian gulma itu dilaksanakan dengan cara manual, diperlukan 10-15 HK per ha. Pengendalian gulma pada areal cokelat muda terutama ditujukan untuk membersihkan piringan tanaman dengan diameter 0,5 m. Di samping itu, pendongkelan anak kayu, anakan cokelat yang tumbuh liar, atau pemberantasan ilalang juga harus dilaksanakan dengan selang waktu tertentu secara teratur.

III. Ranah Pengolahan Agribisnis Komoditas Coklat

Buah matang dicirikan oleh perubahan warna kulit buah dan biji yang melepas dari kulit buah dan biji yang melepas dari kulit bagian dalam. Bila buah diguncang, biji biasanya berbunyi. Buah yang telah dipanen kemudian dipecah. Pengolahan biji cokelat meliputi pembuangan pulp, pematian biji, pembentukan aroma, pengeringan, dan kesesuaian kandungan biji serta berat keringnya sehingga siap digunakan untuk berbagai kebutuhan.

A. Panen Coklat

Ada tiga perubahan warna kulit buah pada cokelat yang telah mengalami kematangan. Ketiga perubahan warna kulit itu juga menjadi criteria kelas kematangan buah di kebun – kebun yang mengusahakan cokelat.
1. Tehnik memetik buah coklat
Untuk memanen cokelat digunakan pisau tajam. Bila buah tinggi, pisau disambungkan dengan bambu. Pemanenan buah cokelat hendaknya dilakukan hanya dengan memotong tangkai buah tepat di batang / cabang yang ditumbuhi buah. Dengan demikian, tangkai buah pun tidak tersisadi batang / cabang sehingga tidak mengahalangi pembuangan pada periode berikutnya.
2. Organisasi pemanenan coklat
Pada eral yang cukup luas biasanya disiapkan suatu organisasi pemanenan dengan melibatkan tenaga kerja khusus. Dibawah pimpinan seorang mandor, panen dilaksanakan pada areal yang kepadatan buahnya sudah ideal untuk di panen.
3. Pemecahan Buah coklat
Buah yang telah dipanen biasanya dikumpulkan pada tempat tertentu. Buah dikelompokkan menurut kelas kematangannya sehingga akan memudahkan pengolahannya. Buah dipetik hingga pukul 12.00 untuk kemudian dipecah hingga pukul 12.00
Pemecahan kulit dilaksanakan dengan menggunakan kayu bulat yang keras. Buah yang dipecah dipegang menggunakan tangan kiri dengan bagian pangkal menghadap ke dalam. Buah kemudian dipukul kea rah punggung buah dengan arah miring.
Bila kulit telah terbagi dua, kulit bagian ujung dibuang dan tangan kanan menarik biji dari plasenta. Biji kemudian ditempatkan di atas lembaran plastic yang telah disiapkan atau di dalam keranjang bamboo yang diberi alas lalu dibenamkan dalam areal pertanaman.

coklat cair love
coklat cair love

B. Pengolahan Coklat

Biji yang diperoleh dari lapangan sudah dapat diolah. Pengolahan biji cokelat biasanya mengikuti tahapan fermentasi (pencucian), pengeringan, sortasi, dan penyimpanan.
1. Fermentasi
Tujuan ini untuk mematikan biji sehingga perubahan – perubahan di dalam biji akan mudah terjadi, seperti warna keeping biji, peningkatan aroma dan rasa, serta perbaikan konsistensi keeping biji. Tujuan lainnya adalah untuk melepaskan pulp. Proses fermentasi biasanya berlangsung 4 – 6 hari.
2. Pengeringan
Pengeringan biji, baik yang melalui proses pencucian maupun tanpa pencucian, dapat dilaksanakan dengan sinar matahari atau pengeringan buatan.
3. Sortasi dan penyimpanan
Sortasi biji yang telah dikeringkan dilaksanakan atas dasar berat biji, kemurnian, warna, dan bahan ikutan, serta jamur. Dalam menetapkan kualitas biji, factor – factor seperti kulit ari, kadar lemak, dan kadar air turut diperhatikan. Sortasi biji dilakukan secara visual, dengan membuang biji – biji yang jelek dan rendah mutunya, Untuk gudang penyimpanan sebaiknya bersih dan memiliki lubang pergantian udara.

IV. Ranah Pemasaran Agribisnis Komoditas Coklat

Coklat merupakan salah satu komoditas penghasil devisa bagi Negara. Pemasaran coklat dapat dilakukan baik di dalam maupun luar negeri tergantung pada hasil produksi cokelat yang dihasilkan. Adapun system pemasaran tersebut, yaitu :

a. Sistem Tata Niaga

Pemasaran cokelat pada perkebunan besar dilakukan oleh Kantor Pemasaran bersama (KPB) yang umumnya terdapat di pusat – pusat produksi. KPB selanjutnya akan melakukan transaksi bersama dengan pihak eksportir dan pabrik pengolahan biji cokelat dalam negeri.
Sedangkan produksi cokelat yang berasal dari perkebunan rakyat, jalur tata niaganya berbeda. Hal ini disebabkan oleh volume cokelat yang dihasilkan oleh petani masih dalam jumlah kecil dan kualitasnya belum mencapai standar.
Pelaku tata niaga adalah pedagang pengumpul di desa, pedagang perantara / pengumpul di kecamatan, pedagang interinsuler / eksportir di kabupaten, dan eksportir di tingkat provinsi.

bagan budidaya coklat 1
bagan budidaya coklat 1

Gambar ini. Jalur Tata Niaga Cokelat

b. Ekspor Coklat

Ekspor biji cokelat Indonesia menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini karena cokelat yang diekspor oleh Indonesia dikategorikan Fine / Flavour Cocoa. Cokelat jenis ini biasanya digunakan sebagai pencampur (blending) oleh negara – negara produsen cokelat olahan. Sebagian besar cokelat Indonesia diekspor ke negara – negara Eropa Barat, Amerika Serikat, dan juga beberapa negara di Asia.

c. Impor Coklat

Dalam rangka pemenuhan konsumsi dan perusahaan cokelat di dalam negeri, Indonesia masih mendatangkan biji cokelat kering dari luar negeri. Adanya impor cokelat dari luar negeri ini, lebih banyak disebabkan oleh harga cokelat impor lebih murah dibanding harga cokelat di dalam negeri. Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan kualitas, karena biji cokelat Indonesia kualitasnya lebih baik.

Resiko yang Dialami dalam Proses Budidaya Coklat


Pembudidayaan cokelat tidak terlepas dari resiko yang akan dihadapi di lahan. Sampai saat ini diketahui bahwa hama dan penyakit cokelat jauh lebih banyak daripada tanaman perkebunan lainnya.

A. Hama

Terdapat ada 15 hama penggerek batang dan cabang, 11 hama penggerek daun, 8 hama pengisap daun, dan satu hama pada buah sebagai hama penting pada tanaman cokelat di Indonesia.
1. Helopeltis sp. (Hemiptera, Miridae)
Hama ini dapat ditemui di Sumatera Utara dan hama yang utama menyerang tanaman coklat.Faktor yang membuat hama ini menyerang tanaman coklat yaitu cahaya matahari, kelembapan, dan arus angin di bawah tajuk. Hama ini senang dengan lingkungan lembap, tetap tidak tahan angin yang kuat. Serangan Helopeltis sp. Bersifat menusuk dan mengisap, terutama pa buah pentil (cherelle) dan pucuk – pucuk muda. Pada pucuk muda serangannya mengakibatkan daun – daun muda melengkung, tumbuh kecil, dan berwarna kehitaman. Pada buah cherelle akan mati dan gugur. Sedangkan pada buah dewasa serangannya tidak menimbulkan kerugian berarti. Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan penggunaan insektisida. Lalu dapat dilakukan pula pengendalian secara biologis berupa pemanfaatan Semut hitam (Dolichoderus thoracicus) sebagai hewan yang dapat mengendalikan perkembangbiakan Helopeltis sp.
2. Conopomorpha cramerella (Lepidoptera, Gracillariidae)
Hama ini dikenal dengan nama penggerek buah coklat (PBC), cacao mot, atau pod borer. Serangan hama ini dapat menyebabkan coklat mengalami perubahan warna sebelum matang dan mengakibatkan persentase biji cacat. Pada bagian kulit buah coklat merupakan objek yang mudah diserang oleh hama ini. Pengendalian hama ini dapat dikendalikan dengan cara merumpis., yaitu dengan memetik seluruh bagian yang terserang dan membenamkannya ke dalam tanah. Usaha lain dapat dilakukan dengan membungkus buah dengan tujuan menurunkan tingkat penyerangan hama terhadap buah cokelat.
3. Darna trima (Lepidoptera, Limacodidae)
Hama ini dikenal dengan nama ulat api. Hama ini diketahui tersebar luas di Asia Tenggara. Serangannya mengakibatkan rontoknya daun cokelat. Serangan hama dapat diatasi dengan pemberian insektisida untuk meningkatkan sanitasi di bawah pohon cokelat.

B. Penyakit

Tanaman cokelat yang terserang penyakit dapat diketahui secara visual dari penampakan daun dan buah cokelat.
1. Vascular Streak Dieback (VSD)
Di Indonesia, gejala serangan penyakit ini pernah dijumpai di Pulau Sebatik, Kalimantan Timur, pada tahun 1983. Serangan berikutnya terdapat di Halmahera (1984) dan Jawa Barat (1984). Penyakit ini dapat ditandai dengan munculnya klorosis pada daun kedua dan ketiga di bawah flush, lalu daun berwarna kunik dengan bercak hijau, rontok dan kulit cabang disekitar bekas kedudukan daun membengkak dan kasar. Pengendalian efektif yang dapat dilakukan dengan cara manual, yaitu dengan memotong cabang yang menunjukkan gejala mati pucuk dan klororsis pada daun keduan dan ketiga di bawah flush dan menggunakan fungisida.
2. Phytopthora sp.
Penyakit ini menyebabkan kerugian yang cukup besar pada daerah – daerah beriklim rendah bercurah hujan tinggi. Infeksi Phytophora sp. dapat langsung terjadi antar buah melalui percikan air hujan dari permukaan tanah, serangga, atau vertebrata. Usaha pengendalian dapat dilakukan dengan penyemprotan fungisida dan pengendalian secara biologis dalam skala laboratorium dengan Aspergillus tamari.
3. Cocoa Swolen Shoot Virus (CSSV)
Penyakit ini dapat menyebabkan kehilangan panen pada tahun pertama serangan mencapai 50% dan pada tahun kedua akan menyebabkan kematian pohon. Gejala penyakit ini dapat dilihat pada batang, daun, akar, dan buah. Infeksi CSSV dapat disebabkan oleh tanah yang kurang subur dan naungan yang kurang menahan terik matahari. Pengendalian dapat dilakukan dengan memotong atau memusnahkan tanaman yang terinfeksi.

es krim coklat (1 hasil)
es krim coklat (1 hasil)

Olahan yang Dapat Dihasilkan dari Komoditas Coklat


Penjualan adalah puncak dari segala usaha. Salah satu cara penjualan dan aneka olahan yang menggiurkan para calon konsumen dapat dibaca di Contoh Analisis Plan Usaha Coklat Homemade (Jualan Coklat Siap Makan).

Let's share it.
TwitterFacebookWhatsAppBufferLinkedInPin It
Let's read other pages.

1 thought on “Kebun Cokelat Coklat Cepat Panen”

Comments are closed.